Jumat, 14 Juni 2013

Khazanah Banjar


Indonesia memiliki keragaman dan keunikan yang tiada duanya. Hal tersebut tertuang dalam karya yang sudah diakui oleh masyarakat luas. Diantaranya bahkan sudah diakui dunia Internasional sebagai warisan budaya atau World Heritage. Salah satunya adalah karya budaya yang penuh dengan nilai artistik yakni Batik.
Selama ini batik memang sangat lekat dengan budaya suku Jawa. Padahal di Indonesia sendiri kain batik tidak hanya berasal dari tanah Jawa. Masing-masing memiliki keunikan dan keindahan serta ciri tersendiri. Salah satunya adalah batik sasirangan yang berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Berbeda dengan batik Jawa yang motifnya terbagi-bagi berdasarkan kelas sosial si pemakai. Sejak dahulu batik sasirangan ini dipakai oleh beragam golongan dan kelas sosial masyarakat Banjarmasin.
Batik sasirangan sendiri memiliki banyak motif yang biasa digunakan antara lain adalah motif sarigading, naga balimbur, kambang raja, bintang bahambur, daun jaruju, iris pudak, kembang kacang, ombak sinapur, dan sisik tanggiling. Kain yang digunakan untuk batik sasirangan pun beragam yakni kain katun, mori, polyester serta kain sutera.
Pembuatan batik sasirangan ini pun cukup sederhana tanpa memerlukan peralatan khusus. Cukup dengan tangan untuk mendapatkan motif dan corak tertentu. Pembuatannya melalui teknik jahitan tangan dan ikatan dengan teknik tusuk jeluljur yang kemudian diikat tali raffia kemudian dicelupkan ke air hangat yang sudah diberi pewarna. Pewarna yang digunakan biasanya berasal dari bahan pewarna alam seperti kulit kayu ulin, jahe, air kulit pisang dan daun pandan.

Dahulu pada masa Kerajaan Banjar,batik sasirangan biasa digunakan sebagai ikat kepala atau biasa disebut “laung” . selain itu batik sasirangan juga kerap kali digunakan untuk ikat pinggang kaum lelaki atau kemben untuk kaum perempuan. Bahkan di tempat-tempat tertentu yang masih mempercayai nilai-nilai spiritual, batik sasirangan seringkali dikenakan untuk upacara adat dan penyembuh orang sakit.
Namun seiring dengan perkembangan zaman, batik sasirangan biasanya digunakan oleh masyarakat Banjarmasin dalam beragam acara seperti pesta perkawinan atau acara resmi lainnya. Bahkan saat ini, tidak jarang batik ini juga sudah digunakan dalam kegiatan sehari-hari baik dalam masyarakat Banjarmasin maupun masyarakat pada umumnya.
Seiring dengan perkembangan zaman serta perkembangan industry mode tradisional, batik sasirangan terus menyebar ke daerah-daerah di Indonesia. Oleh karena itu tidak sulit untuk mendapatkan sehelai kain batik sasirangan dengan harga yang cukup terjangkau. Selain sebagai karya kebudayaan yang patut dihargai dan dilestarikan keberadaannya, batik sasirangan juga merupakan simbol dan identitas bangsa khususnya bagi masyarakat suku Banjar yang memperkaya aset dan karya budaya bumi nusantara.

Asal-Usul Kain Sasirangan Banjar Dan Nilai Magisnya

Apa sebenarnya kain sasirangan itu? Secara etimologis istilah Sasirangan bukanlah kata benda sebagaimana yang dikesankan oleh pengertian di atas, tapi adalah kata kerja. Sa artinya satu dan sirang artinya jelujur. Ini berarti sasirangan artinya dibuat menjadi satu jelujur.
Kain sasirangan memang identik dengan kain yang diberi gambar dengan corak warna-warm berbentuk garis-garis jelujur yang memanjang dari bawah ke atas (vertikal). Sungguhpun demikian, istilah sasirangan sudah disepakati secara social budaya (arbitrer) kepada benda berbentuk kain (kata benda).Lihat http://opinibanjarmasin.blogspot.com)
Menurut catatan pseudo-historis, yang antara lain juga dimuat dalam Hikayat Banjar, sekitar abad XII sampai abad ke XIV, kain Sasirangan yang pertama adalah dibuat pada masa kerajaan Negara Dipa yang kala itu disebut dengan kain Langgundi, yaitu kain tenun yang berwarna kuning. Kala itu, kain Langgundi merupakan kain yang digunakan sebagai bahan untuk membuat pakaian harian seluruh warga kerajaan Negara Dipa.
Kain Sasirangan waktu itu boleh dikatakan berfungsi sama dengan zaman sekarang, di mana setiap warga Kerajaan bebas dan berhak untuk memakainya. Sampai pada suatu saat, Patih Lambung Mangkurat sedang bertapa menggunakan lanting untuk mencari seorang raja bagi pemerintahan kerajaan Negara Dipa sesuai dengan wasiat ayahnya, Empu Jatmika yang tidak memperbolehkan diri dan keturunannya untuk menjadi raja lantara mereka bukan berasal dari tutus raja. Ketika sedang bertapa, Patih Lambung Mangkurat mendengar suara perempuan yang menanyakan maksudnya dan diapun menjelaskan maksud pertapaannya tersebut adalah untuk mencari seorang raja di kerajaanya. Suara perempuan itupun mengatakan bahwa raja yang sedang dicari oleh Patih Lambung Mangkurat itu adalah dirinya, namun perempuan itu mengatakan dia hanya akan menampkkan diri jika Patih Lambung Mangkurat memenuhi permintaannya. Perempuan itu meminta Patih Lambung Mangkurat untuk membuatkannya sebuah istana yang megah yang dibangun oleh 40 orang perjaka dan sehelai kain Langgundi yang ditenun oleh 40 orang perawan, yang keduanya itu harus selesai dalam waktu satu hari. Sang Patih pun menyetujuinya dan langsung melaksanakannya.
Setelah permintaan dipenuhi, perempuan itu menampakkan diri keluar dari dalam air dengan cantiknya berpakaian kain Langgundi. Perempuan itu disebut oleh warga kerajaan Negara Dipa dengan sebutan Putri Junjung Buih, karena muncul dari dalam air yang beriak/berbuih. Adapun kain yang dipakainya disebut Kain Calapan yang kemudian dikenal dengan nama Kain Sasirangan.
Konon, sejak peristiwa itu warga kerajaan Negara Dipa tidak berani lagi menggunakan kain Langgundi/Sasirangan karena takut kuwalat terhadap Putri Junjung Buih. Hal ini mengakibatkan banyak pengrajin kain Langgundi yang tidak lagi memproduksi kain tersebut.
Sungguhpun demikian, tidak semuanya berhenti membuat kain sasirangan. Masih ada beberapa pengrajin yang tetap membuatnya, namun tidak lagi dijadikan sebagai pakaian sehari-hari melainkan untuk pengobatan bagi penyakit yang bersifat magis. Jika dilihat dari legenda ini, ternyata asal-usul kain sasirangan tidaklah sakral dan berbau magis. Artinya, ia bersifat profan dan tidak mengenal pantangan atau hal-hal sejenisnya.
Kenapa kemudian sasirangan menjadi sakral? Tampak dari legenda yang ada bahwa keyakinan itu dibuat-buat dan dihubung-hubungkan dengan dunia leluhur. Padahal, jika dibiarkan sebagaimana asal-usulnya, tidaklah ada bukti yang menampik profanitasnya. Akibatnya kemudian justru fatal, ketika kepercayaan terhadap kain sasirangan menjadi semacam itu, maka produksi kain pada skala lokal menjadi menurun drastis dan sesuatu yang tidak rasional (magis) menjadi rasional lantaran fakta-fakta sembuhnya pasien penyakit kulit setelah memakai kain sasirangan terkumpul dan mengalahkan fakta-fakta ketidaksembuhannya. Tampaknya itu saja, dan tidak lebih dari itu.
Memang, menurut keyakinan umum masyarakat Banjar tempo dulu, banyak penyakit yang disebabkan oleh gangguan makhluk halus. Kain Langgundi/Sasirangan pun merupakan suatu media untuk penyembuhannya. Biasanya penyakit yang dapat disembuhkan olehnya adalah penyakit pingitan, yang secara tradisional dipahami sebagai penyakit yang berasal dari ulah para leluhur yang tinggal di alam roh. Dalam kurun waktu tertentu akan ada anak, cucu, buyut, intah, ataupun yang lain akan terkena penyakit pingitan ini dan untuk penyembuhannya mereka harus mengenakan kain Langgundi. Sebagai media penyembuhan, kain Langgundi bisa digunakan sebagai sarung, kemben, selendang, atau juga ikat kepala yang disebut laung bagi pria.

Corak dan warna kain Langgundi sangatlah beragam, karena setiap jenis penyakit pingitan memerlukan corak dan warna kain Langgundi tertentu juga. Inilah kiranya asal-usul motif sasirangan, dan konon sejak digunakan menjadi media pengobatan itulah maka kain Langgundi lebih dikenal dengan sebutan kain Sasirangan yang semakin kaya dengan motif-motifnya. Sasirangan setidaknya mengenal 19 motif, di antaranya sarigading, ombak sinapur karang (ombak menerjang batu karang), hiris pudak (irisan daun pudak), bayam raja (daun bayam), kambang kacang (bunga kacang panjang), naga balimbur (ular naga), daun jeruju (daun tanaman jeruju), bintang bahambur (bintang bertaburan di langit), dan kulat karikit (jamur kecil).
Ada juga motif gigi haruan (gigi ikan gabus), turun dayang(garis-garis), kangkung kaombakan (daun kangkung), jajumputan(jumputan), kambang tampuk manggis (bunga buah manggis), dara manginang (remaja makan daun sirih), putri manangis (putri
menangis), kambang cengkeh (bunga cengkeh), awan beriring (awan sedang diterpa angin), dan benawati (warna pelangi).
Motif-motif tradisional itu kini dihidupkan kembali dengan selera populer. Motif sarigading kini dibuat lebih halus dan bahkan
telah diberi hiasan garis emas (prada). Teknik prada tersebut merupakan adopsi dari teknik prodo yang dikenal pada batik. (Lihat http://www.urangbanua.com)
Kain Sasirangan dengan pewarna alami ini juga disebut dengan kain Pamintan (permintaan) karena dibuat berdasaarkan permintaan, terutama sesuai dengan jenis penyakit yang akan disembuhkan.
Nilai magis kain sasirangan tentunya juga berproses degradatif mengikuti proses sejarah. Sebelum adanya pewarana sintetik, kain Sasirangan dulunya menggunakan pewarna alami dari alam, misalnya dari pohon Karamunting, Mengkudu, Akar Kebuau, Gambir, Pinang, dan lain sebagainya. Selain pewarna-pewarana alami tersebut, kain Sasirangan biasanya juga menggunakan beberapa bahan dari alam untuk memperkuat ketahanan warnanya, misalnya seperti jeruk nipis, tawas, kapur, dan lain sebagainya. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, kain Sasirangan mulai kehilangan kesakralannya, antara lain karena komposisi pewarna dan perekat warna tidak lagi alami, sehingga khasiat dari benda-benda alam itu juga tidak menyatu lagi dengan kain sasirangan.
Perkembangan zaman telah mengubah fungsi kain Sasirangan dalam kehidupan masyarakat Banjar. Nilai-nilai sakral yang terkandung di dalamnya seolah-olah ikut memudar, tergerus arus globalisasi mode yang begitu cepat. Globalisasi menjadikan kain ini tidak hanya mengalami proses desakralisasi sehingga berubah menjadi pakaian sehari-hari, tetapi juga semakin dilupakan sehingga seolah-olah semakin tercerabut dari hati sanubari masyarakat. Namun, hal ini memiliki nilai positif dari segi akidah, karena faktanya seperti kembali ke asal-usulnya, bahwa setiap orang bisa saja menggunakan kain Sasirangan dalam berbagai bentuk seperti baju, selendang, kerudung, dan sebagainya tanpa harus dibayangi rasa cemas akan kuwalat terhadap leluhur. Bahkan sekarang ini kain Sasirangan sudah banyak dijadikan sebagai pakaian seragam bagi instansi-instansi atau sekolah-sekolah di Kalimantan Selatan pada hari-hari tertentu, dan sebagai cindera-mata bagi para tamu yang berasal dari luar daerah. Pendeka kata, Sasirangan menjadi sama seperti kain-kain pada umumnya.
Namun ada satu hal yang cukup menyedihkan bagi masayarakat Banjar pada khususnya, yaitu dari sudut pandang sosio-ekonomis, karena beberapa motif dari kain Sasirangan telah dipatenkan oleh negara lain sehingga sekarang dikenal istilah kain sasirangan Cina, atau sasirangan impor. Dengan kemajuan teknologi, motif sasirangan dapat dilayout dan diprint dengan mesin cetak berbahan dasar kain. Meskipun demikian, ciri khas sasirangan Banjar masih tetap ada, dan sampai saat ini jika orang menyebut kain Sasirangan, maka sudah pastilah diidentikkan dengan Kalimantan Selatan, bukan yang lain.
Lalu, bagaimana dengan nilai magisnya? Jika kembali dilihat legenda di atas, jelas sesuatu yang dibuat oleh manusia dapat dihilangkan. Ini pun telah terbukti di zaman sekarang, ketika kain langgundi atau sasirangan telah mendunia, nilai magis itu hilang. Para ulama Banjar pun sejak dulu telah menggariskan satu prinsip bahwa la haula wa la quwwata illa billah. Masalah penggunaan khasiat yang terdapat pada benda-benda alam, itu betul, dan sama sekali tidak merusak akidah selama tidak diyakini bahwa ada sesuatu selain Allah swt. yang dapat menyembuhkan. Jadi, apabila terkena penyakit yang mirip dengan gejala pingitan, apa salahnya didiagnosis dulu secara medis, dan masalah pengobatannya bisa dengan cara medis dan bisa pula secara tradisional dan alternatif, karena hal itu hanyalah syariat. Wallahu a’lam.

0 komentar:

Poskan Komentar